Pemberian Peringkat Prestasi Belajar Siswa pada Kurikulum KTSP

Kurikulum KTSP atau kadang disebut kurikulum 2006 yang merupakan penyempurnaan kurikulum KBK tahun 2004 sudah mulai akan ditinggalkan. Tahun pelajaran 2013/2014 ini sudah ada beberapa sekolah yang menjadi pilot projek (sekolah sasaran) implementasi kurikulum baru tahun 2013. Kemungkinan tahun pelajaran 2014/2015 semua sekolah sudah akan menerapkan kurikulum 2013 untuk kelas tingkat awal. Kelas 1 dan 4 untuk SD, kelas 7 untuk SMP dan kelas 10 untuk SMA/SMK.

Kurikulum KTSP belum sepenuhnya dipahami dan dilaksanakan dengan benar oleh sebagian guru-guru, kini mereka diperhadapkan dengan tugas baru mempelajari kurikulum baru tahun 2013.  Contohnya, guru/sekolah yang masih tetap mencantumkan peringkat prestasi belajar siswa di buku rapor siswa merupakan satu kekeliruan pemahaman tentang kurikulum KTSP.  Walau tentunya beberapa alasan yang dikemukakan misalnya pemberian peringkat dapat meningkatkan semangat belajar siswa.

Okey, tapi bagaimana jika pemberian peringkat malah sarat dengan subjektifitas dan kepentingan? Bukankah malah akan mematikan semangat belajar siswa? Seperti yang dialami seorang siswa kelas 4 SDN 54 Tanetea Kabupaten Jeneponto yang berubah jadi murung dan tidak semangat setelah menerima rapornya hari Sabtu, 28 Desember 2013. Dia tampak tidak seperti biasanya, jawaban-jawaban yang dilontarkan singkat dan datar jika ditanya sekaitan dengan sekolahnya. Setelah ditelusuri, ternyata anak tersebut memperoleh peringkat III (tiga) padahal sebelumnya dia selalu memperoleh peringkat I (satu). Saat ditanya oleh seseorang, dapat rangking berapa, dia hanya melempar rapornya sambil berucap “tiga”, bagaimana itu caranya, ketusnya. Dua hari setelah penerimaan rapor, kini anak tersebut terbaring sakit karena demam tinggi.

Penurunan prestasi biasa terjadi. Hanya saja anak ini mungkin bisa mengukur dan membandingkan kemampuannya dengan teman-temannya yang lain sehingga boleh jadi dia berharap akan memperoleh peringkat yang lebih baik dari temannya. Menurut informasi dari teman-teman sekelasnya (sesuai dengan penilaian masing-masing) bahwa siswa yang memperoleh peringkat I tidak lebih pintar dan bahkan beberapa kali tidak masuk sekolah. Yang lebih mengejutkan ketika ada yang mengaitkan bahwa boleh jadi anak tersebut dapat rangking I karena dia keluarga dan sekampung dengan wali kelasnya.

Kebijakan pemberian peringkat yang terkesan subjektif  dan terkesan bernuansa nepotisme malah akan membuat kesan yang buruk terhadap guru (wali kelas) dari siswa yang bersangkutan termasuk siswa-siswa yang lain di kelasnya. Saya yakin bahwa siswa-siswa yang memperoleh kesan buruk terhadap gurunya akan dia ingat sampai mereka dewasa bahkan sampai mereka berumur tua kelak.

Saat dikonfirmasi kebijakan penulisan rangking di rapor tersebut kepada Kepala SDN 54 Tanetea, Basir Siradjang, beliau berjanji akan mempertanyakan hal tersebut kepada guru yang bersangkutan dan akan meninjau kembali penulisan rangking di buku laporan siswa.

Peringkat Prestasi Siswa

2 Komentar (+add yours?)

  1. ave46
    Des 19, 2014 @ 12:10:01

    itu kasuistis sifatnya..jangan mengenerakisasi dong..sifat anak yang seperti itu menggambarkan dia sednag melatih kecerdasan emosinya dan harus disadarkan bahwa kita tidak selalu akan berada diatas….mestinya menilainya begitu bukan malah menjadi acuan terhadap anak2 yang lain..rengking tersebut bisa menjadi penyemangat untuk maju dengan cara bersaing yang sehat……..siap kalah dan tentu harus siap menang……………..di dunia nyata kan memang ini yang terjadi…..anak harus siap bersikap siap kalah dan menang…..

    Suka

    Balas

    • SYARIFUDDIN DAENG RATE
      Des 20, 2014 @ 22:56:53

      Terima kasih komentarnya.
      Setahu saya, tidak ada ruang pada rapor kurikulum KTSP untuk menuliskan peringkat atau rangking. Alasan kenapa tidak perlu bahkan tidak boleh menuliskan rangking karena boleh saja terjadi ada siswa yang nilai di rapornya lebih rendah dibanding dengan nilai rapor temannya tetapi anak tersebut justeru lebih kompeten dari teman yang nilai rapornya tinggi. Hal ini bisa terjadi dengan adanya pembelajaran remidi dan pengayaan.

      Suka

      Balas

Jangan lupa!!! Tuliskan Komentar Anda di Kolom Berikut !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip Posting

%d blogger menyukai ini: