Apa yang Akan Saya Lakukan Jika diberi Tugas Tambahan Kepala Sekolah?

Sebagai abdi negara, guru disamping melaksanakan tugas pokoknya sebagai pendidik, guru juga harus siap dibebani tanggung jawab yang lebih berat yaitu tugas tambahan kepala sekolah. Pemberian tugas tambahan guru sebagai kepala sekolah merupakan amanah Permendiknas nomor 28 tahun 2010. Permendiknas ini memberikan syarat khusus bagi guru yang akan diberi tugas tambahan kepala sekolah yaitu memiliki sertifikat kepala sekolah/madrasah pada jenis dan jenjang yang sesuai dengan pengalamannya sebagai pendidik yang diterbitkan oleh lembaga yang ditunjuk dan ditetapkan Direktur Jenderal.

Setelah melalui tahapan-tahapan perekrutan calon kepala sekolah sebagaimana petunjuk Permendiknas nomor 28 tahun 2010, akhirnya pada Januari tahun 2012 saya memperoleh Sertifikat Kepala Sekolah yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang ditandatangani Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan dengan Nomor Unik Kepala Sekolah (NUKS) 11023L0011905131000340.

Bermodalkan SIM sertifikat kepala sekolah yang saya miliki, Insya Allah saya siap menerima amanah Pemerintah dalam mengembangkan sekolah menuju terwujudnya tujuan pendidikan nasional yaitu terciptanya manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Lalu apa yang akan saya lakukan jika suatu saat nanti diserahi tugas tambahan kepala sekolah?

1. Melanjutkan program kegiatan kepala sekolah sebelumnya yang terbukti efektif meningkatkan pengelolaan sekolah.

Agar sekolah dapat berkembang dan lebih maju dari tahun-tahun sebelumnya, maka program-program kegiatan yang telah berjalan efektif dan mampu meningkatkan mutu pendidikan di sekolah seyogyanya dilanjutkan oleh kepala sekolah berikutnya.

2. Datang lebih awal dan pulang paling akhir di sekolah.

Salah satu faktor ketidakberhasilan seorang kepala sekolah dalam membina SDM sekolah karena sering terlambat masuk sekolah ataupun cepat pulang sebelum jam pulang sekolah. Bahkan sering ditemukan seorang kepala sekolah jarang masuk sekolah. Kehadiran kepala sekolah di tengah-tengah guru, pegawai dan siswa merupakan satu bentuk motivasi bagi mereka dalam melaksanakan tugas masing-masing.

3. Membuat aturan dan kebijakan melalui musyawarah dewan guru, pegawai, OSIS dan Komite Sekolah.

Sering kepala sekolah membuat aturan atau kebijakan berdasarkan hasil pemikiran pribadinya yang belum tentu diterima oleh warga sekolah. Aturan atau kebijakan yang lahir dengan cara seperti itu kadang menjadi tidak efektif bahkan akan dilanggar oleh banyak warga sekolah. Jika aturan dan kebijakan dirumuskan dalam suatu musyawarah yang melibatkan semua unsur, maka aturan ataupun kebijakan yang dilahirkan akan patuhi dan dijalankan dengan penuh rasa tanggungjawab.

4. Siap menerima kritikan dan saran dari berbagai pihak.

Merasa diri paling pintar sebenarnya justru memperlihatkan kebodohan seorang kepala sekolah. Tidak ada manusia yang sempurna, sehingga ketidaksempurnaan seorang kepala sekolah akan ditutupi oleh kritikan dan masukan saran dari warga sekolah, orang tua siswa, masyarakat ataupun pemerintah.

5. Mengelola keuangan sekolah secara bersama dan transparan.

Salah satu masalah yang sering muncul di sekolah adalah karena pengelolaan keuangan yang tidak transparan. Uang sekolah hanya diketahui dan dikelola oleh dua orang saja yaitu kepala sekolah dan bendahara. Sekalipun seorang kepala sekolah dan bendahara merasa telah mengelola dan memanfaatkan uang sekolah untuk kegiatan-kegiatan sekolah tapi tidak diketahui oleh warga sekolah tetap saja akan mengundang kecurigaan. Agar tidak muncul kecurigaan maka seharusnya keuangan sekolah dikelola bersama sehingga masing-masing pengelola juga ikut menyaksikan dan bertanggungjawab dalam pelaporannya.

6. Memberikan sepenuhnya hak-hak guru, pegawai dan siswa.

Kepala sekolah selalu menginginkan yang terbaik dalam setiap pelaksanaan kegiatan tetapi tidak ada perencanaan yang matang. Guru, pegawai ataupun siswa selalu dituntut menunaikan kewajiban-kewajibannya tetapi hak-haknya tidak diberikan. Saya yakin jika hak-hak warga sekolah diberikan sepenuhnya maka mereka akan merasa enjoy dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya dan bukan karena terpaksa.

7. Mengefektifkan 6 (enam) hari kerja.

Satu hal yang dipahami keliru oleh sebagian besar guru adalah mereka ke sekolah nanti saat mereka ada jadwal mengajar di kelas. Jika mereka tidak ada jadwal mengajar maka mereka akan tinggal di rumah atau mengurusi kegiatan lain di luar sana. Atau mereka datang siang hari karena tidak ada jadwal mengajarnya di pagi hari dan sebaliknya. Kekeliruan ini perlu diluruskan. Guru hari kerjanya adalah 6 hari, bukan 5 hari kerja yang pulang nanti pukul 16.00.

Jika guru datang ke sekolah nanti ada jadwal mengajar, maka guru kapan membuat perencanaan mengajar, memeriksa PR atau hasil ulangan siswa, memantau anak wali kelas, atau kapan belajar metode-metode mengajar yang efektif, menyusun karya tulis, menerima tugas mengisi jam pelajaran kosong yang gurunya berhalangan atau kegiatan penting lainnya di sekolah? Semua kegiatan ini dapat dikerjakan di sekolah jika guru tidak mengajar di kelas. Demi terlaksananya semua kegiatan ini maka guru harus masuk sekolah 6 hari kerja. Masuk pagi sebelum jam pelajaran pertama dimulai dan pulang setelah jam terakhir selesai.

8. Menjatuhkan peringatan dan sanksi setelah melalui tahap-tahap pembinaan dengan terlebih dahulu berkonsultasi dengan atasan.

Salah satu yang mengurangi motivasi sebagian guru untuk berkarya dan berprestasi adalah karena tidak adanya perbedaan antara guru dan pegawai yang malas dengan yang rajin. Tidak ada penghargaan bagi yang rajin dan berprestasi. Begitupun yang malas, jarang melaksanakan tugas dan tak berbuat apa-apa, mereka tetap terima gaji, terima tunjangan secara utuh dan naik pangkat setiap dua tahun. Sangatlah bijak jika seorang kepala sekolah memberlakukan adanya sanksi dan penghargaan terhadap warga sekolah.

9. Bersahabat dengan seluruh warga sekolah dan masyarakat.

Adalah manusia yang tak tahu diri jika yang tadinya dia adalah guru biasa kemudian berubah sifat, tak bersahabat dan menjaga jarak dengan guru/pegawai setelah menjadi kepala sekolah. Ini adalah fakta beberapa kepala sekolah di sekitar kita. Kepala sekolah hanyalah tugas tambahan. Kepala sekolah adalah amanah yang menurut saya maha berat. Berat tanggung jawabnya. Untuk meringankan amanah tersebut, kepala sekolah harus mampu bekerja sama dan berkolaborasi dengan seluruh warga sekolah dan masyarakat. Agar mereka mau diajak bekerja sama maka kepala sekolah harus dekat dan bersahabat dengan mereka. Dengan demikian, Insya Allah, amanah dan tanggungjawab akan menjadi ringan karena diangkat bersama-sama.

Wallahu a’lam bishawab.

6 Komentar (+add yours?)

  1. Mustari
    Okt 18, 2012 @ 23:32:49

    Jika 9 point di atas terlaksana dengan baik pastilah semua stakeholder di sekolah akan merasa nyaman bekerja. Kata kuncinya semua personil sekolah harus memahami serta melaksanakan hak dan kewajibannya.

    Suka

    Balas

  2. sarojentak
    Sep 26, 2012 @ 09:58:10

    Kepala Sekolah yang mengerti dengan baik tugas, wewenang, hak, dan kewajibannya akan menciptakan sekolah sebagai lingkungan kerja yang nyaman bagi seluruh stake holder di sekolah.
    Program nomor 8 perlul diterapkan karena yang terjadi selama ini tidak ada perbedaan perlakuan terhadap guru rajin vs malas, guru berprestasi vs guru biasa-biasa saja.

    Suka

    Balas

  3. musfis@yahoo.com
    Sep 19, 2012 @ 17:03:13

    Program uda “MANTAP” “SETUJU”

    Suka

    Balas

Jangan lupa!!! Tuliskan Komentar Anda di Kolom Berikut !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip Posting

%d blogger menyukai ini: