Efektivitas Pembelajaran Kooperatif STADAT dalam Pembelajaran Matematika SMP

PENDAHULUAN

Pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengem-bangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mengemban fungsi tersebut pemerintah menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Cita-cita luhur pendidikan nasional berusaha diwujudkan oleh pemerintah Republik Indonesia sehingga pada tahun 2004 telah mengeluarkan suatu kurikulum baru yang berorientasi pada kompetensi peserta didik yang disebut dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) kemudian direvisi dengan lahirnya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang mengamanatkan tersusunnya kurikulum pada tingkat satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah dengan mengacu kepada standar isi dan standar kompetensi lulusan. Proses pengembangan kurikulum berbasis kompetensi menggunakan asumsi bahwa peserta didik yang akan belajar telah memiliki pengetahuan dan keterampilan awal yang dibutuhkan untuk menguasai kompetensi tertentu.

Matematika dalam struktur kurikulum tingkat satuan pendidikan, merupakan salah satu matapelajaran yang diajarkan di jenjang pendidikan dasar dan menengah. Pengetahuan matematika bagi peserta didik penting karena matematika merupakan ilmu yang mendasari perkembangan teknologi modern. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini. Dengan demikian pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama.

Salah satu permasalahan yang masih dihadapi bangsa Indonesia dalam bidang pendidikan saat ini adalah mutu pendidikan yang relatif masih rendah.  Diakui ada banyak faktor penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia, diantaranya ketersediaan pendidik yang belum memadai dari segi kualitas, kesejahteraan pendidik yang masih rendah, fasilitas belajar yang belum tersedia cukup dan biaya operasional pendidikan yang belum memadai.

Diantara faktor penyebab rendahnya mutu pendidikan tersebut, ketersediaan tenaga pendidik yang kompeten merupakan masalah yang krusial karena tenaga pendidiklah yang melaksanakan kurikulum di kelas. Keberhasilan proses pembelajaran di kelas tidak terlepas dari kemampuan guru mengembangkan model-model dan strategi pembelajaran yang berorientasi pada peningkatan intensitas keterlibatan siswa secara efektif di dalam proses pembelajaran.

Matapelajaran matematika adalah matapelajaran yang tidak menarik dan paling ditakuti siswa, bahkan siswa alergi mendengar kata matematika. Sebagian besar siswa menganggap matematika adalah pelajaran yang sulit dimengerti. Sebagiannya lagi berpendapat tidak perlu belajar matematika karena tidak akan pernah dia pahami, ini artinya ibarat pertandingan mereka sudah kalah sebelum bertanding. Mereka yang berpendapat seperti ini bisa dipastikan prestasi belajar matematika mereka tidak akan pernah memuaskan.

Gambaran ketidaktertarikan siswa terhadap pelajaran matematika dapat dilihat dari prestasi belajar siswa secara nasional yang masih kurang memuaskan. Di SMP Negeri 1 Binamu misalnya, prestasi belajar matematika semester ganjil tahun pelajaran 2009/2010 masih sangat rendah. Hal ini ditunjukkan dari dokumentasi nilai rata-rata tiap matapelajaran memperlihatkan untuk kelas VIII nilai rata-rata pelajaran matematika hanya 68 dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 63. Ini berarti nilai rata-rata prestasi belajar matematika masih jauh di bawah KKM ideal 75 yang ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP).

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menekankan keterlibatan aktif antara guru dan siswa dalam proses belajar mengajar. Belajar matematika tidak sekedar belajar untuk memperoleh pengetahuan (learning to know) tetapi harus ditingkatkan pada learning to do, learning to be, and learning to live together. Hal ini sesuai dengan usulan UNESCO melalui International Commision on Education for The Twenty First Century yang dikenal dengan empat pilar belajar (Aunurrahman, 2009).

Learning to live together in peace and harmony pada dasarnya adalah mengajarkan, melatih dan membimbing siswa agar mereka dapat menciptakan hubungan melalui komunikasi yang baik, menjauhi prasangka-prasangka buruk terhadap orang lain serta menjauhi dan mengindari terjadinya perselisihan dan konflik. Persaingan yang ada harus dipandang sebagai upaya-upaya yang sehat untuk mencapai keberhasilan, dan bukan sebaliknya bahwa persaingan justru mengalahkan nilai-nilai kebersamaan bahkan penghancuran orang lain atau pihak lain untuk kepentingan sendiri. Dengan demikian diharapkan kedamaian dan keharmonisan hidup benar-benar dapat diwujudkan.

Pengembangkan potensi to live together in peace and harmony dalam pembelajaran adalah salah satunya melalui model pembelajaran kooperatif. Aktivitas pembelajaran kooperatif menekankan pada kesadaran siswa akan perlunya belajar untuk mengaplikasikan pengetahuan, konsep, dan keterampilan kepada siswa yang membutuhkan atau anggota lain dalam kelompoknya, sehingga belajar kooperatif dapat saling menguntungkan antara siswa yang berprestasi rendah dan siswa yang berprestasi tinggi. Hasil Penelitian Suryadi (dalam Isjoni, 2007) menyimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif dalam pembelajaran matematika adalah salah satu model pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan kemampuan berfikir siswa. Belajar dengan model kooperatif dapat memotivasi siswa berani mengemukakan pendapatnya, mengahargai pendapat teman, saling memberikan pendapat, bekerja sama dan saling tolong menolong mengatasi tugas yang dihadapinya.

Pembelajaran kooperatif tipe STAD dan TGT merupakan tipe kooperatif yang menjadi pilihan pertama guru dalam pembelajaran di kelas jika melakukan pembelajaran kooperatif. Pemilihan tipe STAD dilakukan oleh guru karena tipe ini mudah dilaksanakan dan hampir cocok dengan semua materi pelajaran. STAD juga merupakan tipe yang paling sederhana dibanding dengan tipe-tipe kooperatif yang lain dan merupakan model yang paling baik untuk permulaan bagi guru-guru yang baru menggunakan pendekatan kooperatif (Slavin, 2008). Sedangkan pemilihan tipe TGT dilakukan karena tipe ini hampir sama dengan langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe STAD yang mengganti kuis pada STAD dengan turnamen akademik.

Usaha-usaha meningkatkan kualitas pembelajaran dan membangkitkan motivasi belajar siswa yang berujung pada meningkatnya hasil belajar siswa, para pemerhati dunia pendidikan khususnya guru selalu mengkaji untuk mencari strategi, model, pendekatan ataupun metode pembelajaran yang cocok untuk mengajarkan bahan-bahan ajar tertentu.

Salah satu upaya meningkatkan kualitas pembelajaran adalah mengkombinasikan dua atau lebih tipe-tipe pembelajaran kooperatif. Diantaranya adalah mengkombinasikan pembelajaran kooperatif STAD dan TGT. Pada pelaksanaannya dalam pembelajaran di kelas, STAD dan TGT sangat sering digunakan dengan mengkombinasikan keduanya yaitu dengan menambahkan turnamen tertentu pada TGT ke dalam struktur STAD (Slavin, 2008).

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: apakah pembelajaran kooperatif Student Team Achievement Division And Tournament (STADAT), Student Team Achievement Division (STAD),  dan Team Game Tournament (TGT) efektif dalam pembelajaran matematika? Pertanyaan penelitian untuk mengarahkan rumusan masalah di atas adalah: (1) Bagaimana keefektifan pembelajaran kooperatif STADAT, STAD, TGT dan pembelajaran konvensional ditinjau dari persentase tingkat ketuntasan belajar siswa? (2) Bagaimana keefektifan pembelajaran kooperatif STADAT, STAD dan TGT ditinjau dari aktivitas siswa dalam pembelajaran? (3) Bagaimana keefektifan pembelajaran kooperatif STADAT, STAD dan TGT ditinjau dari tingkat kemampuan guru mengelola pembelajaran? (4) Bagaimana keefektifan pembelajaran kooperatif STADAT, STAD dan TGT ditinjau dari persentase respons positif siswa? (5) Apakah ada perbedaan prestasi belajar siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif STADAT dengan prestasi belajar siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif STAD, TGT dan pembelajaran konvensional?

TINJAUAN PUSTAKA

Belajar merupakan suatu kegiatan mental yang tidak dapat diamati dari luar. Apa yang terjadi dalam diri seseorang tidak dapat diketahui secara langsung hanya dengan mengamati orang tersebut. Hasil belajar hanya bisa diamati, jika seseorang menampakkan kemampuan yang telah diperoleh melalui belajar. Karenanya, berdasarkan usaha dan perilaku yang ditampilkan, dapat ditarik kesimpulan bahwa seseorang telah belajar.

Hilgard (dalam Fathurrohman, 2007) mendefinisikan belajar sebagai perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu. Pendapat senada dikemukakan Rusyan (1994) bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. Pengertian belajar yang dikemukakan di atas pada prinsipnya sama, yakni perubahan tingkah laku hanya berbeda mengenai cara atau usaha pencapaiannya.

Pengertian belajar matematika pada dasarnya sama dengan pengertian belajar secara umum seperti yang telah diuraikan di atas. Menurut Gagne (dalam Hudoyo, 1988), belajar matematika adalah usaha yang dilakukan individu memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara permanen. Seseorang dapat dikatakan belajar matematika apabila mereka dapat mengasumsikan dalam diri mereka terdapat suatu proses kegiatan yang mengakibatkan perubahan tingkah laku, dimana perubahan tingkah laku itu dapat diamati.

Pola tingkah laku seseorang dalam proses belajar matematika tersusun menjadi suatu model belajar diaplikasikan ke dalam matematika. Prinsip belajar ini haruslah dipilih sehingga cocok untuk mempelajari matematika. Sejalan dengan belajar matematika tersebut, Hudoyo (1988) menyatakan bahwa pada hakekatnya belajar matematika adalah belajar yang berkenaan dengan ide-ide, struktur-struktur yang diatur menurut urutan logis. Belajar matematika tidak berarti pelajaran hanya dihafalkan saja. Belajar matematika baru bermakna kalau dimengerti. Selanjutnya Hudoyo menyatakan bahwa, belajar matematika merupakan kegiatan mental yang tinggi, karena matematika berkaitan dengan ide-ide abstrak yang diberi simbol-simbol yang tersusun secara hirarkis yang penalarannya deduktif.

Karena matematika merupakan ide-ide abstrak yang diberi simbol-simbol, maka konsep-konsep matematika harus dipahami terlebih dahulu sebelum memanipulasi simbol-simbol itu. Seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari kepada apa yang telah diketahui orang itu. Karena itu untuk mempelajari suatu materi matematika yang baru, pengalaman belajar yang lalu dari seseorang itu akan mempengaruhi terjadinya proses belajar materi matematika tersebut.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar matematika merupakan suatu proses psikologis berupa kegiatan aktif dalam upaya seseorang untuk memahami atau menguasai materi matematika. Kegiatan aktif yang dimaksud adalah pengalaman belajar matematika berupa reaksi orang yang belajar materi matematika sebagai bahan ajar.

  1. 1.     Tinjauan umum pembelajaran kooperatif

Pembelajaran kooperatif bertitik tolak dari pandangan John Dewey dan Herbert Thelan (dalam Suprijono, 2009) yang memberikan pernyataan bahwa pendidikan dalam masyarakat yang demokratis seyogyanya mengajarkan proses demokratis secara langsung. Tingkah laku kooperatif dipandang oleh Dewey dan Thelan sebagai dasar demokrasi, dan sekolah dipandang sebagai laboratorium untuk mengembangkan tingkah laku demokrasi.

Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu bentuk belajar kelompok. Dalam pembelajaran kooperatif kelas disusun atas kelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa yang heterogen menurut tingkat prestasi, jenis kelamin dan suku, agama. Tujuan pembentukan kelompok kecil dalam pembelajaran kooperatif, adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses berpikir dan kegiatan belajar. Selama kerja kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan materi yang disajikan guru, dan saling membantu teman dalam satu kelompoknya untuk mencapai ketuntasan belajar.

Fase-fase dalam melaksanakan pembelajaran kooperatif (Suyatno, 2009) terdiri atas enam langkah (fase) yaitu: (1) menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa, (2) menyajikan informasi/materi, (3) mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar, (4) membimbing kelompok bekerja dan belajar, (5) evaluasi, dan (6) memberikan penghargaan.

  1. 2.     Pembelajaran kooperatif STAD

Pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang bertujuan mendorong siswa berdiskusi, saling bantu menyelesaikan tugas, menguasai dan pada akhirnya menerapkan keterampilan yang diberikan. Slavin (2008) mengemukakan ada 5 langkah pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe STAD, yaitu:

  1. Menyampaikan tujuan.Tahap pertama guru memulainya dengan menyampaikan tujuan pembe-lajaran khusus, kemudian memotivasi rasa ingin tahu siswa tentang kandungan materi yang akan dipelajarai. Kemudian dilanjutkan dengan memberi apersepsi dengan harapan mengingatkan kembali pemahaman siswa akan materi prasyarat yang diperlukan.
  2. Penyajian Materi. Saat menyajikan materi pembelajaran perlu ditekankan hal-hal sebagai berikut: (1) mengembangkan materi pembelajaran sesuai dengan apa yang akan dipelajari siswa dalam kelompok; (2) menekankan bahwa belajar adalah memahami makna dan bukan sekadar hapalan; (3) memberi umpan   balik   sesering  mungkin  untuk  mengontrol  pemahaman  siswa;  (4) memberi penjelasan atau alasan mengapa jawaban itu benar atau salah dan (5) beralih pada materi berikutnya jika siswa telah memahami masalah yang ada.
  3. Tahap kerja kelompok. Tahap kerja kelompok, siswa dibagikan lembar kerja siswa (LKS) sebagai bahan dipelajari dalam bentuk open-ended tasks. Dalam kerja kelompok ini siswa sharing berbagi tugas, saling bantu menyelesaikan tugas dengan target mampu memahami materi secara benar. Salah satu hasil kerja dikumpulkan sebagai hasil kerja kelompok. Pada tahap ini guru harus mampu berperan sebagai fasilitator dan motivator kerja kelompok
  4. Tahap tes individu.Tes individu diadakan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan belajar telah dicapai. Tes atau kuis secara individual dapat berupa perta-nyaan-pertanyaan jawaban singkat atau bentuk pilihan ganda. Pada peneliti-an ini, tes individu dilakukan pada akhir setiap pertemuan. Tujuannya agar siswa dapat menunjukkan pemahaman dan apa yang telah dipelajari sebelumnya. Skor yang diperoleh siswa per individu ini didata dan diarsipkan sebagai bahan untuk perhitungan skor kelompok.
  5. Tahap Penghargaan. Segera setelah siswa mengerjakan kuis dilakukan perhitungan perolehan skor individu untuk. pemberian penghargaan kelompok.
    1. 3.     Pembelajaran kooperatif TGT

Seperti halnya dengan pembelajaran kooperatif Student Teams Achievement Division (STAD), TGT juga membagi siswa dalam kelompok belajar yang beranggotakan 4-5 orang yang merupakan campuran menurut tingkat kemampuan, jenis kelamin, dan suku.

Secara umum TGT sama dengan STAD kecuali satu hal yaitu TGT menggunakan turnamen akademik menggantikan kuis-kuis dan sistem skor kemajuan individu. Dalam turnamen akademik para siswa berlomba sebagai wakil kelompok mereka dengan anggota kelompok lain yang kemampuan akademiknya sama dengan mereka. Slavin (2008) mendeskripsikan komponen-komponen TGT sebagai berikut:

  1. Presentase kelas. Saat presentase kelas, guru memulai dengan menyampaikan tujuan pembelajaran yang harus dicapai hari itu dan memotivasi rasa ingin tahu siswa tentang materi yang akan dipelajari. Berikutnya guru memberikan apersepsi dengan tujuan mengingatkan siswa terhadap materi prasyarat yang telah dipelajari agar siswa dapat menghubungkan materi yang akan disajikan dengan pengetahuan yang telah dimiliki. Selanjutnya guru menyajikan materi pelajaran menggunakan pengajaran langsung.
  2. Kegiatan kelompok. Setiap kelompok dibagikan lembar kerja siswa (LKS) sebagai bahan yang akan dipelajari dalam kelompok. Fungsi utama dari kegiatan kelompok adalah memastikan bahwa semua anggota kelompok benar-benar belajar sampai mengerti dan menguasai permasalahan yang ditanyakan dan lebih khusus lagi adalah mempersiapkan anggotanya untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan pada turnamen akademik nantinya.
  3. Game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang kontennya relevan yang dirancang untuk menguji pengetahuan siswa yang diperolehnya dari presentase kelas dan penguasaan kompetensi pada kegiatan kelompok. Game dimainkan di atas meja dengan tiga atau empat orang siswa dimana masing-masing siswa mewakili kelompok yang berbeda dengan kemampuan akademik yang sama. Kebanyakan game adalah berupa nomor-nomor pertanyaan yang ditulis pada lembar yang sama. Seorang siswa mengambil sebuah kartu bernomor dan harus menjawab pertanyaan sesuai nomor yang tertera pada kartu tersebut. Sebuah aturan tentang penantang memperbolehkan para pemain saling menantang jawaban masing-masing.
  4. Turnamen adalah sebuah struktur dimana game berlangsung. Turnamen biasanya dilaksanakan pada akhir minggu atau setelah selesai pembelajaran satu standar kompetensi. Pada penelitian ini, turnamen dilaksanakan setiap pertemuan. Penempatan siswa pada meja-meja turnamen dilakukan berda-sarkan tingkat kemampuan masing-masing siswa. Tingkat kemampuan siswa diperoleh dari hasil pretes yang dilakukan sebelumnya. Pada turnamen pertama, guru menentukan siswa untuk maju ke meja-meja turnamen. Tiga atau empat siswa yang sama-sama berkemampuan tinggi ditempatkan pada meja turnamen 1, tiga atau empat siswa berkemampuan sama berikutnya ditempatkan pada meja turnamen 2 dan seterusnya.
  5. Penghargaan kelompok. Segera setelah turnamen selesai, saatnya menentukan skor kelompok. Skor kelompok diperoleh dari poin-poin turnamen dari tiap siswa yang ada dalam anggota kelompok tersebut.
    1. 4.     Pembelajaran kooperatif STADAT

Pembelajaran kooperatif Student Team Achievement Division And Tournament (STADAT) adalah pembelajaran kooperatif yang merupakan kombinasi dari pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) dengan pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT).

Pengkombinasian pembelajaran kooperatif STAD dan TGT menjadi pembelajaran kooperatif STADAT peneliti memilih mengadakan game turnamen terlebih dahulu kemudian memberikan kuis-kuis pada tahap berikutnya. Adapun langkah-langkah pembelajaran kooperatif STADAT selengkapnya adalah: presentase kelas (penyajian materi), kegiatan kelompok, game turnamen, kuis, skor kemajuan dan penghargaan kelompok.

Sejalan dengan pembelajaran kooperatif STAD dan TGT, pada pembelajaran kooperatif STADAT siswa ditempatkan dalam kelompok belajar beranggotakan 4-5 orang yang merupakan campuran menurut tingkat prestasi dan jenis kelamin. Guru menyajikan materi pelajaran sementara siswa memperhatikan dan menyimak penjelasan guru. Selanjutnya siswa bekerja di dalam kelompok mereka untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah menguasai pelajaran tersebut. Pada tahap berikutnya diadakan game turnamen. Siswa mengatur meja untuk pelaksanaan game turnamen. Setiap anggota kelompok dari tiap kelompok yang berkemampuan setara menuju ke meja turnamen yang telah ditentukan untuk melakukan permainan turnamen.

Setelah melakukan game turnamen dilanjutkan dengan memberikan kuis. Akhirnya, masing-masing perolehan skor kuis individu dan perolehan skor di meja turnamen dihitung untuk menentukan predikat penghargaan masing-masing kelompok sebagai kelompok “SUPER”, “HEBAT”, dan “BAIK”. Tiga kelompok peraih predikat penghargaan tertinggi dapat diberikan penghargaan tambahan berupa pemberian sertifikat, dimuat dibuletin sekolah atau diumumkan di papan pengumuman kelas.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian eksperimen yang melibatkan empat kelompok siswa yang terdiri satu kelompok eksperimen dan tiga kelompok kontrol. Kelompok eksperimen adalah kelompok siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif Student Team Achievement Division And Tournament (STADAT), sedang kelompok kontrol adalah kelompok siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif Student Team Achievement Division (STAD), Teams Games Tournament (TGT), dan pembelajaran konvensional.

Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 1 Binamu Kabupaten Jeneponto Provinsi Sulawesi Selatan pada kelas VIII tahun pelajaran 2009/2010 dengan jumlah siswa sebanyak 313 orang. Penentuan sampel penelitian menggunakan purposive sampling.

Variabel-variabel dalam penelitian ini dibagi dalam tiga variabel yaitu: (1) variabel model pembelajaran kooperatif STADAT, STAD, TGT dan pembelajaran konvensional, (2) Variabel terikat prestasi belajar yang dicapai siswa setelah diberi perlakuan, dan (3) Variabel pendukung berupa aktivitas siswa, kemampuan guru mengelola pembelajaran dan respons siswa terhadap pembelajaran.

Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini, yaitu: (1) Lembar observasi aktivitas siswa yang bertujuan untuk mendapatkan data tentang aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung pada materi kubus dan balok. Intrumen ini digunakan pada pembelajaran kooperatif  STADAT, STAD dan TGT. (2) Lembar  observasi kemampuan guru mengelola  pembelajaran bertujuan untuk memperoleh data tentang kemampuan guru dalam mengelola proses belajar mengajar pada setiap model pembelajaran. (3) Angket respons siswa bertujuan untuk mengumpulkan data tentang respons siswa terhadap kegiatan pembelajaran dan perangkat pembelajaran dengan pembelajaran kooperatif STADAT, STAD, TGT dan pembelajaran konvensional. Pengisian angket respons siswa dilakukan pada pertemuan terakhir dari seluruh rangkaian proses pembelajaran. (4) Tes prestasi belajar  digunakan untuk memperoleh informasi tentang  prestasi belajar siswa setelah mempelajari materi pelajaran kubus dan balok.

Teknik analisis data menggunakan teknik statistik deskriptif dan analisis statistik inferensial. Analisis deskriptif bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) aktivitas siswa, (2) kemampuan guru mengelola  pembelajaran, (3) respons siswa, dan (4) pencapaian prestasi belajar siswa. Sedangkan analisis statistik inferensial menggunakan uji F melalui ANOVA satu jalur (one  way-anova) untuk menguji hipotesis yang diajukan yaitu “terdapat perbedaan prestasi belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif Student Team Achievement Division And Tournament (STADAT), STAD, TGT dan pembelajaran konvensional”. Post Hoc Test digunakan jika hipotesis yang diajukan diterima dengan tujuan untuk melihat kelompok perlakuan mana yang berbeda secara signifikan.

Pembelajaran Kooperatif Student Team Achievement Division And Tournament (STADAT), STAD dan TGT dikatakan efektif dalam pembelajaran matematika jika minimal 4 dari 5 kriteria keefektifan pembelajaran yaitu: (1) kriteria ketuntasan belajar,  (2)  kriteria aktivitas siswa,  (3)  kriteria  kemampuan guru, (4) kriteria  respons  siswa, dan (5) prestasi belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif STADAT, STAD dan TGT lebih baik dari prestasi belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional dipenuhi dengan syarat poin (1) dan (5) harus terpenuhi.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Analisis hasil prestasi belajar memperlihatkan hanya 5% siswa memperoleh nilai kategori sangat baik pada pembelajaran kooperatif STADAT sementara pada pembelajaran kooperatif STAD, TGT dan pembelajaran konvensional tidak ada siswa yang memperoleh nilai kategori sangat baik. Prestasi belajar siswa dengan kategori kurang masih ada 5% pada pembelajaran kooperatif STADAT sementara pada pembelajaran kooperatif STAD, TGT dan pembelajaran konvensional mencapai 7,69%.

Ditinjau dari pencapaian Ketuntasan Belajar Minimal (KKM), pembelajaran kooperatif STADAT tuntas 92,50%, STAD dan TGT tuntas masing-masing 89,74%, dan pembelajaran konvensional tuntas 84,62%. Pencapaian KKM ini menggambarkan bahwa semua model pembelajaran tuntas secara klasikal  sesuai dengan kriteria ketuntasan yaitu minimal 85% siswa mencapai ketuntasan minimal.

Memperhatikan besaran persentase tingkat ketuntasan belajar yang dicapai siswa untuk masing-masing model pembelajaran memperlihatkan bahwa persentase ketuntasan belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif STADAT lebih tinggi dibandingkan dengan ketuntasan belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif STAD, TGT dan pembelajaran konvensional.

Hasil pengamatan aktivitas siswa diperoleh bahwa aktivitas siswa disimpulkan ideal untuk ketiga pembelajaran kooperatif STADAT, STAD dan TGT berdasarkan tingkat pencapaian waktu ideal aktivitas siswa. Berdasarkan jarak persentase rata-rata PWI aktivitas siswa ke WI diperoleh 14,00 untuk pembelajaran kooperatif STADAT, 16,00 untuk pembelajaran kooperatif STAD dan 14,50 untuk pembelajaran kooperatif TGT. Jarak persentase rata-rata PWI aktivitas siswa ke WI pada pembelajaran kooperatif STADAT waktunya lebih sedikit (kecil) sehingga disimpulkan bahwa aktivitas siswa lebih ideal (baik) pada pembelajaran kooperatif STADAT dibandingkan dengan aktivitas siswa pada pembelajaran kooperatif STAD dan TGT.

Hasil analisis data kemampuan guru mengelola pembelajaran diperoleh rata-rata kemampuan guru mengelola pembelajaran kooperatif STADAT adalah 3,79, pembelajaran kooperatif STAD adalah 3,78, dan pembelajaran kooperatif TGT adalah 3,78. Kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran model pembelajaran kooperatif STADAT, STAD dan TGT dengan besaran angka tersebut berada pada kategori sangat tinggi.

Hasil analisis data respons siswa diperoleh respons positif siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran kooperatif STADAT mencapai 99,31%, pembelajaran kooperatif STAD mencapai 96,07% dan pembelajaran kooperatif TGT mencapai 97,29%. Persentase respons positif siswa terhadap ketiga pembelajaran kooperatif cukup tinggi dan terlihat bahwa respons positif tertinggi siswa ada pada pembelajaran kooperatif STADAT menyusul TGT kemudian STAD.

Hasil ANOVA dengan SPSS 15 pada Tabel 40 diperoleh Fhitung = 4,302 > Ftabel = 2,6637 dan signifikansi = 0,006 <  = 0,05. Nilai Fhitung ini mengijinkan hipotesis yang diajukan diterima yang artinya ada perbedaan prestasi belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif Student Team Achievement Division And Tournament (STADAT), STAD, TGT dan pembelajaran konvensional.

Hasil Post Hoc Test yang merupakan uji lanjut memperlihatkan ada tidaknya perbedaan prestasi belajar secara statistik terhadap kelompok-kelompok perlakuan yaitu : (1) Hasil Post Hoc Test dengan menggunakan least significance difference (LSD) di peroleh mean defference sebesar 6,54744 dengan sig. = 0,001 < yang berarti ada perbedaan prestasi belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif STADAT dengan pembelajaran konvensional pada taraf signifikansi . Karena rata-rata prestasi belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif STADAT = 74,65 lebih besar dari rata-rata prestasi belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional = 68,10 maka disimpulkan bahwa prestasi belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif STADAT lebih baik atau lebih tinggi dari prestasi belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional. (2) Hasil Post Hoc Test dengan menggunakan least significance difference (LSD) di peroleh mean defference sebesar 1,54744 dengan sig.= 0,417 >  yang berarti tidak ada perbedaan prestasi belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif STADAT dengan pembelajaran kooperatif TGT pada taraf signifikansi . (3) Hasil Post Hoc Test dengan menggunakan least significance difference (LSD) di peroleh mean defference sebesar 2,65000 dengan sig. = 0,165 >  yang berarti tidak ada perbedaan prestasi belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif STADAT dengan pembelajaran kooperatif STAD pada taraf signifikansi . (4) hasil Post Hoc Test dengan menggunakan least significance difference (LSD) di peroleh mean defference sebesar 3,89744 dengan sig. = 0,043 <  yang berarti ada perbedaan prestasi belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif STAD dengan pembelajaran konvensional pada taraf signifikansi . Karena rata-rata prestasi belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif STAD = 72,00 lebih besar dari rata-rata prestasi belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional = 68,10 maka disimpulkan bahwa prestasi belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif STAD lebih baik atau lebih tinggi dari prestasi belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional. (5) Hasil Post Hoc Test dengan menggunakan least significance difference (LSD) di peroleh mean defference sebesar 1,10256 dengan sig. = 0,565 >  yang berarti tidak ada perbedaan prestasi belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif STAD dengan pembelajaran kooperatif TGT pada taraf signifikansi . (6) Hasil Post Hoc Test dengan menggunakan least significance difference (LSD) di peroleh mean defference sebesar 5,00000 dengan sig. = 0,010 <  yang berarti ada perbedaan prestasi belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif TGT dengan pembelajaran konvensional pada taraf signifikansi . Karena rata-rata prestasi belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif TGT = 73,10 lebih besar dari rata-rata prestasi belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional = 68,10 maka disimpulkan bahwa prestasi belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif TGT lebih baik atau lebih tinggi dari prestasi belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional.

Hasil pengamatan pengamat terhadap kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran STADAT, STAD dan TGT dari pertemuan pertama sampai pertemuan terakhir masing-masing menunjukkan peningkatan rata-rata kemampuan guru mengelola pembelajaran. Peningkatan tersebut terjadi disebabkan usaha guru dimana setiap akhir pertemuan guru/peneliti berdiskusi dengan pengamat mengenai performance guru selama proses pembelajaran berlangsung. Dalam diskusi tersebut dibahas tentang tahap-tahap pembelajaran yang sudah atau belum sesuai dengan masing-masing tahap-tahap pembelajarn kooperatif untuk dipertahankan atau diperbaiki pada pertemuan-pertemuan berikutnya.

Aktivitas siswa yang aktif berdasarkan kriteria dalam pembelajaran kooperatif tidak terlepas dari usaha guru yang selalu mereviu pelaksanaan pembelajaran yang telah dilakukan sebelumnya termasuk bagaimana agar aktivitas siswa yang diharapkan tercapai. Bentuk aktivitas siswa dalam kelompok misalnya diharapkan bagaimana siswa dapat belajar berdasarkan kemampuan dirinya secara individu dan ikut andil selama belajar bersama dalam kelompok, menumbuhkan  interaksi  sosial yang harmonis dan saling  ketergantungan positif, serta menumbuhkan rasa tanggung  jawab  atas  segala  sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya.

Hasil pengamatan terhadap aktivitas siswa dalam pembelajaran kooperatif, terlihat bahwa siswa tidak canggung dalam bekerja sama, saling memberi dan menerima, saling memberikan dukungan, serta menghargai pendapat orang lain. Hal ini disebabkan karena sebelum pelaksanaan pembelajaran kooperatif, siswa diberikan pemahaman bahwa kerja sama yang baik dalam kelompok berpeluang besar untuk memperoleh penghargaan kelompok tertinggi yaitu “kelompok super” pada fase ke enam pembelajaran kooperatif. Kerja sama kelompok yang baik akan menghasilkan pemahaman yang sama dan merata terhadap masalah atau materi pelajaran yang dipelajari. Pada akhirnya mereka akan memperoleh predikat kelompok super dan prestasi belajar yang memuaskan.

Hasil pengamatan aktivitas siswa yang memperlihatkan tingkat aktivitas yang ideal atau lebih baik pada pelaksanaan pembelajaran kooperatif STADAT menggambarkan tingginya gairah dan motivasi siswa terlibat secara aktif dalam pembelajaran. Gairah dan motivasi belajar yang tinggi tersebut selain karena mereka senang dengan pembelajaran kooperatif seperti yang telah dijelas sebelumnya ditambah dengan adanya keinginan yang besar dari mereka untuk menjadi pemenang dari pesain-pesainnya dalam kompetisi game turnamen. Nampak dalam situasi pelaksanaan game turnamen, siswa sangat semangat ingin merebut poin teman jika sekiranya teman mejanya tidak bisa menjawab soal dengan benar.

Hasil angket respons siswa pada umumnya siswa memberikan respons positif terhadap penerapan pembelajaran kooperatif, baik terhadap STADAT, STAD ataupun TGT. Persentase respons positif tertinggi terjadi pada pembelajaran kooperatif STADAT yaitu sebesar 99,31% disusul pembelajaran kooperatif TGT sebesar 97,29% dan respons positif terendah terjadi pada pembelajaran kooperatif STAD yaitu sebesar 96,07%.

Respons positif yang cukup tinggi tersebut menandakan tingginya minat, antusias dan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran kooperatif. Semua siswa mengharapkan agar pelajaran-pelajaran berikutnya mereka masih belajar dengan pembelajaran kooperatif yang mereka ikuti.

Harapan mereka beralasan karena pembelajaran yang katanya belajar kelompok yang diikuti sebelum-sebelumnya tidak persis sama dengan pembelajaran kooperatif STADAT, STAD ataupun TGT. Siswa belajar dalam kelompok-kelompok tetapi tidak banyak didampingi guru bahkan kadang guru meninggalkan mereka keluar kelas. Kuis-kuis kadang diberikan layaknya pembelajaran kooperatif STAD tetapi tidak ada pemberian penghargaan setelahnya sehingga kelompok-kelompok belajar kurang termotivasi dalam kerja sama kelompok.

Faktor respons positif yang tinggi dari siswa sejak pertemuan pertama terhadap pembelajaran yang dilaksanakan ternyata sangat berpengaruh dalam proses pembelajaran. Hal ini tergambar dari pengamatan aktivitas siswa pada kategori yang ketujuh yaitu melakukan hal-hal yang tidak relevan dalam KBM mengalami penurunan pada pertemuan-pertemuan berikutnya. Jika respons siswa positif terhadap pembelajaran yang sedang dilaksanakan, maka itu berarti siswa senang dan ada motivasi untuk belajar. Hal ini akan berdampak baik pada kelangsungan proses pembelajaran yang dilaksanakan berikutnya.

Hasil analisis data prestasi belajar siswa pada pokok bahasan kubus dan balok menunjukkan bahwa (1) Kelas kooperatif STADAT sebanyak 92,5% siswa mencapai ketuntasan individu (KKM 63) dengan rata-rata prestasi belajar 74,65 (2) Kelas kooperatif STAD sebanyak 89,74% siswa mencapai ketuntasan individu (KKM 63) dengan rata-rata prestasi belajar 72,00 (3) Kelas kooperatif TGT sebanyak 89,74% siswa mencapai ketuntasan individu (KKM 63) dengan rata-rata prestasi belajar 73,10 dan (4) kelas konvensional sebanyak 84,62% siswa mencapai ketuntasan individu (KKM 63) dengan rata-rata prestasi belajar 68,10.

Dari hasil prestasi belajar tersebut terlihat bahwa semua kelas kooperatif tercapai ketuntasan klasikal minimal 85% siswa tuntas individual. Adapun siswa yang belum memenuhi ketuntasan individu, masing-masing mereka diberikan tugas untuk kembali mempelajari indikator dari kompetensi dasar yang belum mereka lulusi. Setelah mereka siap sesuai dengan batas waktu yang diberikan, mereka kemudian diberikan ujian ulang (remedial). Pemberian ujian remedial dilakukan untuk memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang telah ditetapkan sekolah pada tahun yang berjalan untuk setiap siswa.

Prestasi belajar siswa pada kelas konvensional yang hanya mencapai rata-rata 68,10 dengan tingkat ketuntasan individu sebesar 84,62% sesuai dengan nilai rata-rata pelajaran matematika kelas VIII pada semester ganjil tahun 2009/2010 sebesar 68 dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 63. Rata-rata prestasi belajar yang sama tersebut bukan merupakan suatu yang kebetulan karena model pembelajaran yang selama ini dipakai guru dalam mengajar masih menggunakan model pembelajaran konvensional.

Jika membandingkan rata-rata prestasi belajar siswa yang diajar dengan pembelajaan konvensional dengan rata-rata prestasi belajar siswa yang diajar dengan pembelajaan kooperatif pada tiga kelas kooperatif termasuk kelas kooperatif STADAT yang mencapai rata-rata 74,65 maka dapat dikatakan bahwa prestasi belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif lebih baik dari pada prestasi belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional.

Hasil prestasi belajar siswa kelas kooperatif yang lebih baik dari prestasi belajar kelas konvensional menguatkan temuan-temuan bahwa pembelajaran dengan model kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Hasil penelitian Suradi (2005) misalnya menemukan bahwa pembelajaran koope-ratif dapat meningkatkan kemampuan akademik siswa dan variasi skor prestasi akademik antara siswa yang berkemampuan tinggi, sedang dan rendah setelah pembelajaran kooperatif semakin kecil.

Persentase ketuntasan klasikal dalam pembelajaran kooperatif yang lebih tinggi tidak terlepas dari karakteristik pembelajaran kooperatif yang mendorong siswa bekerja sama dalam kelompok untuk menguasai konsep atau masalah yang diberikan. Kerjasama yang baik dalam kelompok akan mengantarkan semua anggota kelompok mempunyai pemahaman yang benar dan merata terhadap masalah yang diberikan. Harapan kelompok memperoleh predikat kelompok terbaik (SUPER) mendorong anggota kelompok wajib memahami konsep atau masalah yang diberikan sehingga mereka akan memenangkan game di meja-meja turnamen dan memperoleh nilai kuis yang tinggi. Pada akhirnya, dengan menguasai dan memahami masalah-masalah yang diberikan membuahkan prestasi belajar siswa yang tinggi.

Hasil analisis data prestasi belajar siswa yang diajar menggunakan pembelajaran kooperatif STADAT menunjukkan rata-rata prestasi belajar mencapai 74,65. Jika hasil tersebut dibandingkan dengan prestasi belajar siswa yang diajar menggunakan pembelajaran kooperatif STAD dan TGT, maka prestasi belajar kooperatif STADAT masih lebih tinggi walaupun selisihnya tidak terlalu signifikan. Sementara jika membandingkan rata-rata prestasi belajar siswa yang diajar dengan menggunakan koopertif TGT yang mencapai 73,10 dengan rata-rata prestasi belajar siswa yang diajar dengan menggunakan koopertif STAD, maka prestasi belajar siswa kooperatif TGT lebih tinggi walaupun selisihnya tidak signifikan. Hasil ini sesuai dengan temuan Kurniasari (2006) bahwa ada perbedaan hasil belajar yang signifikan antara kelas TGT dan STAD dimana hasil belajar aspek kognitif kelas TGT lebih baik dibandingkan dengan kelas STAD.

Perbedaan prestasi belajar antara kelas TGT dan STAD dapat terjadi karena tingkat aktivitas siswa dalam tugas kelompok lebih tinggi pada kelas kooperatif TGT dibandingkan dengan kelas STAD. Tingginya aktivitas siswa dalam tugas kelompok kelas TGT tersebut terlihat dari data aktivitas siswa dimana kriteria aktivitas pada poin 7 yaitu melakukan hal-hal yang tidak relevan dalam kegiatan belajar mengajar hanya 0,75% sedangkan kelas STAD mencapai 1,75%. Tingginya aktivitas siswa dalam kelompok kelas TGT juga terlihat dari jumlah jarak pencapaian waktu ideal (PWI) ke waktu ideal (WI) aktivitas siswa yang lebih kecil yaitu 14,50 sedangkan kelompok kelas STAD mencapai 16,00.

Salah satu faktor yang dapat dijadikan alasan yang mendorong siswa lebih aktif dalam proses belajar mengajar kooperatif TGT adalah adanya game tournament. Semua siswa sangat antusias dalam game tournament dan berharap menjadi pengumpul poin tertinggi di meja turnamennya. Antusiasme siswa dalam game turnamen menguatkan Suyatno (2009) bahwa manusia mempunyai kecenderungan akan ketertarikan dengan permainan. Permainan dapat memberikan dampak yang luar biasa bagi perkembangan kejiwaan, kecerdasan, keterampilan, kompetisi dan kesantunan anak apabila guru mengajar di kelas melalui permainan. Pembelajaran melalui bermain juga dapat membantu anak mengurangi stress dan mengembangkan rasa humornya.

Keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar pada kelas STADAT yang mencapai 99,25% berdampak pada capaian rata-rata prestasi belajar siswa pada level 74,65. Capaian prestasi belajar ini sejalan dengan Suyatno yang sebelumnya telah mengatakan bahwa belajar melalui permainan dapat memberikan dampak yang luar biasa bagi perkembangan kejiwaan dan kecerdasan. Capaian prestasi belajar ini juga menguatkan Sardiman (2007) yang menyatakan bahwa ada beberapa cara dan jenis menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar siswa diantaranya memberi angka, hadiah, ada persaingan atau kompetisi. Persaingan atau kompetisi, baik perorangan ataupun kelompok dapat berfungsi sebagai alat motivasi yang mendorong siswa untuk belajar dan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

Beberapa implikasi penelitian dapat dirumuskan berdasarkan pembahasan hasil penelitian yang telah dipaparkan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam mengatasi rendahnya prestasi belajar matematika siswa secara khusus dan dapat diterapkan dalam mengatasi permasalahan pendidikan secara umum.

Pertama, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran mate-matika dengan menggunakan pembelajaran kooperatif STADAT, STAD dan TGT pada pokok bahasan kubus dan balok memberikan hasil yang lebih baik daripada pembelajaran konvensional. Berkaitan dengan hasil tersebut, maka salah upaya meningkatkan prestasi belajar matematika siswa terkhusus pada pokok bahasan kubus dan balok dapat ditempuh dengan menggunakan pembelajaran kooperatif STADAT, STAD dan TGT. Hal ini dimungkinkan terjadi, karena belajar secara kooperatif adalah belajar secara gotong royong yang merupakan budaya dan tradisi bangsa Indonesia.

Kedua, menurut hasil penelitian ini menunjukkan prestasi belajar matematika siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran konvensional memberikan hasil yang kurang maksimal pada pokok bahasa kubus dan balok. Hal ini ditunjukkan dengan rata-rata nilai prestasi belajar siswa yang berada pada kategori rendah. Dari hasil yang diperoleh tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran konvensional tidak efektif digunakan untuk meningkatkan prestasi akademik siswa khususnya pada pokok bahasan kubus dan balok.

Ketiga, tidak ada perbedaan prestasi belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran dengan kooperatif STADAT, STAD dan TGT secara statistik. Namun demikian penggunaan pembelajaran kooperatif STADAT patut lebih dipertimbangkan dalam usaha meningkatkan prestasi belajar matematika siswa. Hal ini beralasan karena pembelajaran kooperatif STADAT merupakan kombinasi dari pembelajaran kooperatif STAD dan TGT yang menggabung-kan masing-masing kelebihan dari keduanya.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan rumusan masalah, tujuan penelitian, dan hasil yang diperoleh sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat disimpulkan: (1) prestasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Binamu setelah melalui pembelajaran kooperatif STADAT pada pokok bahasan kubus dan balok mencapai nilai rata-rata 74,65 dari skor ideal 100. Tiga siswa (7,50%) berada pada kategori tidak tuntas dan 37 siswa (92,50%) berada pada kategori tuntas individual, (2) prestasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Binamu setelah melalui pembelajaran kooperatif STAD pada pokok bahasan kubus dan balok mencapai nilai rata-rata 72,00 dari skor ideal 100. Empat siswa (10,26%) berada pada kategori tidak tuntas dan 35 siswa (89,74%) berada pada kategori tuntas individual, (3) prestasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Binamu setelah melalui pembelajaran kooperatif TGT pada pokok bahasan kubus dan balok mencapai nilai rata-rata 73,10 dari skor ideal 100. Empat siswa (10,26%) berada pada kategori tidak tuntas dan 35 siswa (89,74%) berada pada kategori tuntas individual, (4) prestasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Binamu setelah melalui pembelajaran konvensional pada pokok bahasan kubus dan balok mencapai nilai rata-rata 68,10 dari skor ideal 100. Enam siswa (15,38%) berada pada kategori tidak tuntas dan 33 siswa (84,62%) berada pada kategori tuntas individual, (5) terdapat perbedaan yang signifikan antara prestasi belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif STADAT, STAD dan TGT dengan prestasi belajar yang diajar dengan pembelajaran konvensional, (6) prestasi belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif STADAT, STAD dan TGT lebih baik dibandingkan dengan prestasi belajar yang diajar dengan pembelajaran konvensional, (7) pembelajaran Kooperatif Student Team Achievement Division And Tournament (STADAT), STAD dan TGT efektif digunakan dalam pembelajaran matematika, (8) pembelajaran kooperatif STADAT lebih efektif dalam pembelajaran matematika ditinjau dari tingkat ketuntasan belajar, aktivitas siswa, kemampuan guru dan respons positif siswa terhadap pembelajaran.

Berdasarkan kesimpulan yang dikemukakan di atas, maka diajukan saran yang perlu disampaikan sebagai berikut: (1) penggunaan pembelajaran kooperatif STADAT perlu dipertimbang-kan dalam pembelajaran matematika sebagai salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada umumnya dan pada pembelajaran pokok bahasan kubus dan balok pada khususnya, (2) penelitian seperti ini seyogyanya juga dilakukan pada pokok bahasan atau materi lain untuk membuat siswa tertarik, senang, dan aktif dalam belajar matematika, (3) untuk penelitian selanjutnya, bagi peneliti yang berminat mengembangkan penelitian yang sama, hendaknya mencermati keterbatasan penelitian ini, sehingga hasil penelitiannya dapat lebih berkualitas dan lebih sempurna.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2009. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Aunurrahman. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.

Avianti, Nuniek. 2008. Mudah Belajar Matematika untuk Kelas VIII Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah. Jakarta: Pusat Perbukuan Depdiknas.

Baharuddin. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran. Malang: Arruzmedia

Bell, Margaret E, Gredler. 1994. Belajar dan Membelajarkan. Jakarta: Prakarsa Sehati.

Depdiknas. 2003. Pedoman Pembuatan Laporan Hasil Belajar SMP. Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama Dirjen Dikdasmen Depdiknas.

Dictionary.com. 2010. Definition of cube. Online:  http://dictionary.reference. com/browse /cube. Download tanggal 15 Oktober 2010.

Djamarah, Bahri, Syaiful. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Banjarmasin: Rineka Cipta

Fathurrohman, Pupuh. 2007. Strategi Belajar Mengajar Melalui Penanaman Konsep Umum dan Konsep Islam. Bandung: Refika Aditama.

Hamalik, Oemar. 2009. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Bumi Aksara.

Hill, Winfred F. 2009. Teories of Learning. Bandung: Nusa Media.

Hudoyo, Herman. 1988. Mengajar Belajar Matematika. Jakarta: Depdikbud

Indrawati dan Wanwan. 2009. Upaya Strategis Memberdayakan KKG/MGMP melalui Bermutu. Buletin. Jakarta: Bermutu News.

Isjoni. 2007. Cooperative Learning. Bandung: Alfabeta.

Kurniadi, Hary, 2010. Strategi Pembelajaran Ekspositori. Online. http://www. papantulisku. com/2010/02/strategi – pembelajaran – ekspositori_08. html. Download tanggal 15 Oktober 2010.

Kurniasari, Ani, 2006. Komparasi Hasil Belajar Antara Siswa yang diberi Metode TGT (Teams Games Tournaments) dengan STAD (Student Teams Achievement Division) Kelas X Pokok Bahasan Hidrokarbon. Skripsi. Semarang: Tidak diterbitkan.

Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, 2005. Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta Perubahannya. Jakarta: Sekretariat Jenderal MPR RI.

Menteri Pendidikan Nasional, 2005. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: Depdiknas.

Menteri Pendidikan Nasional, 2006. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.Jakarta: Depdiknas.

Nur, Mohammad. 2000. Pendekatan-pendekatan Konstrruktivis dalam Pembelajaran. Surabaya: IKIP Surabaya.

Nurdin. 2007. Model Pembelajaran Matematika yang Menumbuhkan Kemampuan Metakognitif untuk Menguasai Bahan Ajar. Disertasi. Surabaya: PPs UNESA

Nurwati. 2009. Studi tentang pembelajaran kooperatif tipe STAD, Jigsaw pada Materi Sistem Persamaan Linier Dua Variabel Kelas VIII SMP/MTs. Tesis. Makassar: Tidak diterbitkan.

Presiden Republik Indonesia, 2003. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas

Ratumanan, Tanwei Gerson. 2004. Belajar dan Pembelajaran. Surabaya: Unesa University.

Roetiyah. 1998. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta

Rusyan, Tabrani. 1994. Pendekatan Dalam Proses Relajar Mengajar. Bandung: Rosdakarya.

Sagala, Syaiful. 2009. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.

Sardiman A.M. 2007.  Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers.

Slavin, Robert . 2008. Terjemahan Cooperative Learning: Teori, Riset, dan Praktik. Bandung: Nusa Media.

Sukino dan Simangunsong, Wilson. 2004. Matematika untuk SMP Kelas VIII. Jakarta: Erlangga.

Suparno, Paul, 1997. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.

Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning. Surabaya: Pustaka Pelajar.

Suradi, 2005. Interaksi Siswa SMP dalam Pembelajaran Matematika Secara Kooperatif. Disertasi. Surabaya: PPs UNESA

Suyatno. 2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Surabaya: Masmedia Buana Pustaka.

Tim Penyusun Kamus, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruk-tivistik. Jakarta: Prestasi Pusaka.

Widyantini, 2008. Penerapan Pendekatan Kooperatif STAD dalam Pembelajaran Matematika SMP. Yogyakarta: Departemen Pendidikan Nasional, Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Matematika.

EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN KOOPERATIF STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION AND TOURNAMENT (STADAT) DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

3 Komentar (+add yours?)

  1. yeni yulianingsih
    Jun 02, 2012 @ 11:30:08

    saya akan melakukan penelitian dengan menggunakan metode STADAT, yang masih saya binggung sampai saat ini yaitu penghargaan kelompoknya.
    Penghargaan kelompoknya itu dari skor game turnamen atau dari skor kemajuan, atau ginama? tolong bantuannya ,,,,

    Suka

    Balas

  2. yeni yulianingsih
    Mei 28, 2012 @ 15:44:17

    Apa perbedaan antara STADAT dengan TGT? karena kalau dilihat dari langkanya, langkah pada STADAT hampir sama dengan TGT.
    dan bagaimana cara memberikan penghargaan kelompoknya?

    Suka

    Balas

Jangan lupa!!! Tuliskan Komentar Anda di Kolom Berikut !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip Posting

%d blogger menyukai ini: